Oleh: s4hmi | 7 Februari 2008

Mengenal Istilah 4×4 dan 4×2

Seiring dengan meningkatnya penjualan mobil baru yang terus masuk dan membanjiri bursa pasar mobil Indonesia, maka model mobil terbaru pun semakin bervariasi. Meskipun beragam banyaknya namun diantara kebanyakan tersebut tetap menggunakan sistem penggerak roda 4×4 atau 4×2.

Di Indonesia angka penjualan kendaraan dengan sistem penggerak roda 4×2 lebih banyak di banding dengan 4×4. Hal ini wajar karena harga jual kendaraan yang memiliki sistem penggerak roda 4×4 ini lebih mahal dibanding 4×2. Selain itu penyebab lainnya karena sistem penggerak roda 4×4 ini lebih kompleks dibanding 4×2.

Istilah 4×4 dan 4×2 ini sebenarnya mengacu pada sistem penyaluran tenaga dari yang dimiliki oleh kendaraan tersebut. Sebut saja 4×2, itu berarti dari 4 roda yang terdapat pada kendaraan tersebut maka 2 roda saja yang dapat mendorong mobil tersebut untuk melaju. Untuk 2 roda yang didepan sebagai pendorongnya disebut dengan Front Engine Front Drive (FF) dan 2 roda yang dibelakang sebagai pendorong lajunya kendaraan itu disebut dengan Front Engine Rear Drive (FR). Sedangkan 4×4 ini berarti dari keempat roda yang dimiliki kendaraan tersebut dialiri tenaga mesin, keseluruhan rodanya berfungsi sebagai pendorong lajunya kendaraan tersebut.

Keseluruhan sistem tersebut dalam dunia otomotif dikenal dengan sebutan Drive Train atau Pemindah Daya. Drive Train ini terdiri dari sejumlah mekanisme yang memindahkan tenaga mesin untuk menggerakkan roda, yaitu mesin, kopling, transmisi dan sistem penggerak roda.

Sistem penggerak FR terdiri dari komponen propeller shaft, differential (gardan) dan axle belakang. Sedangkan komponen FF terdiri dari transaxle, differential, drive shaft dan axle depan. Untuk sistem penggerak 4×4 adalah gabungan dari kedua komponen sistem penggerak diatas. Di bagian depan ada transaxlem differential depan, differential tengah, transfer, drive shaft dan axle depan. Yang kemudian diikuti oleh komponen belakang seperti propeller shaft, differential belakang, axle dan axle shaft belakang. Karena komponen yang kompleks itulah membuat harga mobil dengan sistem penggerak 4×4 lebih mahal dibanding dengan 4×2.

Dari mesin tenaga tersebut dialirkan ke kopling dan diteruskan ke transmisi. Dari transmisi ini tenaga kemudian menyebar ke roda. Ini juga tergantung dari sistem penggerak yang dipasang. Kopling berfungsi sebagai menghubungkan dan melepaskan penyaluran tenaga dari mesin ke transmisi. Piranti transmisi inilah yang berfungsi mengubah tenaga mesin tersebut menjadi momen yang kemudian disesuaikan dengan kondisi perjalanan kendaraan dan memindahkan momen tersebut ke roda. Pada mobil jenis FF transmisinya langsung tergabung denagn differential yang biasanya dikenal dengan sebutan Transaxle.

Komponen propeller shaft pada kendaraan FR dan 4×4 berfungsi memindahkan tenaga dari transmisi ke differential. Dari differential inilah tenaga tersebut disalurkan ke roda – roda. Differential adalah komponen yang terdiri dari dua bagian yaitu final gear dan differential gear. Final gear berfungsi memperkecil putaran poros engkol sehingga menghasilkan momen yang besar. Differential gear berfungsi mengatur kecepatan putaran roda yang berbeda antara roda ban. Pergerakan roda menjadi stabil/sinkron.

Komponen drive shaft berfungsi untuk menggerakkan roda – roda kendaraan, yang biasanya menggunakan sistem suspensi independen. Selanjutnya komponen axle bertugas untuk menyangga roda – rodanya.

Sistem penggerak 4×4 diciptakan untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh kendaraan penggerak 4×2. Khususnya ketila kendaraan melaju di lintasan yang licin dan terjal. Pada mobil penggerak 4×2 bila salah satu roda penggeraknya selip karena kehilangan traksi, maka kendaraan tersebut akan sulit untuk bergerak. Hal ini disebabkan karena tenaga terpusat pada kedua roda tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut maka terdapatlah sistem penggerak 4×4. Pada sistem penggerak 4×4 begitu salah satu roda selip, tenaga dari mesin tetap bertumpu ke roda lainnya. Kendaraan pun akan bergerak dengan lancar tak terpengaruh dengan kondisi jalan.

Secara umum ada tiga jenis sistem penggerak 4×4 ini. Yang pertama dikenal sistem Part Time 4×4. Sistem Part Time 4×4 merupakan teknologi yang paling konvensional karena penggerak rodanya tidak aktif hingga pengemudi mengaktifkan fungsi piranti 4WD-nya. Teknologi ini telah digunakan pada kendaraan lawas seperti Toyota Hardtop, Suzuki Jimny, dan Daihatsu Taft Badak.

Yang kedua adalah sistem Auto 4×4. Kendaraan dengan sistem Auto 4×4 akan berjalan dengan penggerak 4×2 pada kondisi normal. Akan tetapi ketika mobil berjalan dalam kondisi tertentu yang memerlukan sistem penggerak pada keseluruh rodanya maka secara otomatis tanpa perlu diperintah pengemudi, sistem ini akan berfungsi dengan sendirinya. pada kendaraan yang memakai penggerak roda depan misalnya, viscous coupling akan mengunci kunci kopel ke roda belakang sehingga roda belakang akan ikut berputar. Sistem Auto 4×4 ini telah diterapkan pada kendaraan baru yang sangat saya sukai¬†yaitu Honda CR-V dan Ford Escape.

Yang paling canggih adalah yang ketiga, yaitu sistem Full Time 4×4 (dikenal juga dengan sebutan All Wheel Drive/AWD). Teknologi pada sistem Full Time 4×4 ini berbasis sistem komputer. Umumnya dipakai oleh kendaraan yang berharga mahal dengan sistem yang sangat canggih. Roda depan dan roda belakang selalu menjadi penggerak kendaraan. Pada kondisi tertentu piranti 4WD-nya bisa dikunci baik secara manual maupun otomatis, sehingga roda depan dan belakang akan berputar sama. Hal tersebut memberikan kontrol traksi yang baik ke permukaan jalan. Kendaraan yang sudah menerapkan teknologi ini adalah Hummer/humvee, Land Rover Defender dan Jeep Grand Cherokee.

Seiring dengan perkembangan elektronik, pabrikan mobil merancang peralatan yang lebih baik lagi kualitasnya. Pabrikan mobil pun menamakan produknya bermacam, seperti BMW yang menyebut teknologi ini dengan sebutan xDrive. Pengalihan tenaga dikendalikan oleh kopling multi-pelat yang diatur secara eletronik melalui sebuah unit transfer daya. Hal tersebut memungkinkan daya gerak didistribusikan secara bergantian antara roda depan dan belakang. Unit kontrol dari sistem All Wheel Drive ini dihubungkan dengan sistem pengatur chassis Dynamic Stability Control (DSC) melalui banyak interface internal. Berdasarkan data yang diberikan DSC, sistem xDrive akan mengidentifikasi berbagai kecendrungan terjadinya understeer maupun oversteer sejak dini dan menetralkan dengan mengubah distribusi daya. Sesuai dengan kebutuhan dinamika pengemudian, proporsi transmisi daya dapat bervariasi antara 50:50 hingga 0:100 persen.

Perusahaan otomotif Jepang, Mitsubishi mengembangkan sistem Easy Select 4WD Shift On The Fly. Teknologi tersebut memungkinkan pengemudi memindahkan sistem penggerak 2WD ke 4WD dalam kondisi mobil bergerak dengan kecepatan masih dibawah 100 km/jam.

Untuk kedepannya teknologi penggerak roda akan semakin canggih. Saat ini Mitsubishi sedang mengembangkan sistem yang disebut Super All Wheel Drive (SAWD) yang menggabungkan berbagai perangkat, seperti Electronic Power Steer, ABS, EBD, Suspensi dan Vehicle Alignment dari kendaraan. Tujuannya tentu saja untuk menghasilkan kendaraan yang nyaman dan aman saat dikendalikan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: